Selasa, 10 Desember 2013

Harga Emas Akan Naik Tipis Tahun 2014, Level $1500 Cukup Rasional



Sepanjang tahun ini, pergerakan harga emas global terpantau mengalami kondisi yang menurun. Jika di awal tahun bulan Januari tahun ini harga emas sempat berada pada posisi 1714 dollar per troy ons, namun sepanjang tahun terus melemah hingga pada pekan kedua bulan November di posisi 1275 dollar per troy ons. Secara persentase, pelemahan pergerakan emas hampir mencapai 23%. Bahkan penurunan harga emas akan semakin besar jika ditarik tren sejak September 2012 yang sempat menyentuh level 1792 dollar per troy ons.
Jelang berakhirnya tahun 2013 ini, kita pastinya akan memperkirakan bagaimana proyeksi harga emas untuk tahun 2014. Bagi sebagian kalangan terutama investor, pergerakan harga emas global untuk tahun depan diperkirakan akan menjadi sebuah ajang pembuktian apakah komoditi logam mulia tersebut masih dapat disebut sebagai komoditi safe haven.
Berbeda dengan tahun 2013, dimana para investor dan bank-bank sentral di dunia justru lebih giat untuk melakukan aksi jual. Selain untuk memperoleh keuntungan jangka pendek atau profit taking, kebutuhan akan uang likuid sangat besar sepanjang tahun. Hal tersebut terutama dilakukan oleh bank sentral yang menjual cadangan emasnya untuk memperoleh uang likuid guna menunjang sisi stimulus ekonomi.
Outlook Harga Emas Tahun 2014
Secara potensi dan prediksi, harga emas untuk tahun 2014 diperkirakan akan mengalami kondisi yang cukup sulit. Potensi rebound diperkirakan tidak akan signifikan. Prediksi mengenai harga emas diperkirakan akan menyentuh level 1500 dollar per troy ons diakhir tahun depan. Membaiknya kondisi perekonomian di Eropa memicu adanya kenaikan permintaan emas pada bank sentral pada tahun ini. Kondisi yang hampir sama juga terjadi di Amerika Serikat dimana negara tersebut hampir dipastikan akan merilis dana stimulusnya di kuartal pertama tahun 2014 seperti dikemukakan oleh beberapa anggota Fed dalam beberapa waktu terakhir. Apalagi dari sisi politis, pencalonan Janet Yellen telah disetujui oleh mayoritas anggota Senat AS. Sosok Yellen dinilai sebagai salah satu aktor utama yang merancang kebijakan stimulus ekonomi AS sejak tahun 2008. Sehingga jika nanti menjabat sebagai Gubernur Fed, maka kemungkinan besar dirinya akan mendukung penuh adanya stimulus lanjutan.
Lalu bagaimana dengan China? jauh-jauh hari pada bulan November ini pemerintah China mulai mengeluarkan resolusi perekonomian untuk tahun 2014 yang menitikberatkan pada pendorongan tingkat pertumbuhan ekonomi ke level 8% dan pengetatan sektor moneter. China yang merupakan negara dengan cadangan emas terbesar di dunia diperkirakan akan melepas sebagian emasnya. Saat ini China memiliki cadangan emas mencapai 1054 ton.
Hal lain yang juga harus dicermati ialah adanya sebuah kondisi dimana tiap bank sentral negara-negara besar akan berupaya menjaga nilai tukar mata uang negaranya dalam jangka pendek. Kondisi tersebut dapat terlihat pada beberapa negara seperti Jepang, China dan juga kawasan Euro. Oleh karena itu, bagi para investor dihimbau waspada untuk tahun depan mengingat kondisi fundamental ekonomi global masih belum stabil.
(JP/JA/VBN)
Dikutip dari :
http://vibiznews.com/2013/11/22/harga-emas-akan-naik-tipis-tahun-2014-level-1500-cukup-rasional/

Minggu, 08 Desember 2013

BI: Rupiah Berbalik Arah Tahun Depan

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) meyatakan akan terjadi penguatan nilai tukar rupiah pada tahun depan. Hal ini terjadi karena berkurangnya tekanan terhadap pergerakan rupiah terutama pembayaran utang jatuh tempo.

"Saya optimistis rupiah akan menguat dalam medium term," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Difi A Johansyah dalam pelatihan wartawan ekonomi dan perbankan mengenai Pendalaman Seputar Nilai Tukar di Bandung, baru-baru ini.

Sesuai data Bank Indonesia, rencana pembayaran utang luar negeri swasta Januari-September tahun 2014 mencapai US$15,617 miliar. Nilai tersebut jauh di bawah utang jatuh tempo swasta pada Oktober-Desember tahun ini yang mencapai US$24,117 miliar.

Artinya, permintaan valas pada tahun depan akan lebih rendah daripada akhir tahun ini. Sehingga tekanan terhadap nilai tukar akan berkurang.

Selain itu, lanjut Difi, tingkat inflasi juga akan rendah yakni berada pada kisaran 3,5-5,5%. Hal tersebut disebabkan karena dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Juni lalu telah habis.

"Secara historikal, rupiah menguat setelah pemilu karena adanya kepastian Presiden baru," tutur Difi.

Menurut Difi, tekanan akan bersumber dari ketidakpastian rencana pengurangan stimulus ekonomi Amerika Serikat tapering off oleh @The Fed. Di samping itu, defisit transaksi berjalan Indonesia.

"Semalam kan ada pengumuman angka +pengangguran AS yang positif. Tapi tidak memengaruhi pasar. Pasar sudah bosan dengan isu-isu itu (tapering off)," ungkap dia.

Dalam +perdagangan pada Jumat (6/12) sesuai kurs tengah BI, nilai tukar rupiah berada pada level Rp.11.960/US$. Nilai ini menguat 58 poin dari hari sebelumnya yang ditransaksikan pada level Rp12.018/US$. (Daniel Wesly Rudolf)
http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/12/08/2/199830/-BI-Rupiah-Berbalik-Arah-Tahun-Depan

Jumat, 06 Desember 2013

Berita Fundamental AS Mendukung Spekulasi ‘Tapering’ Fed

sumber: MONEXNEWS.COM

Data-data ekonomi AS terbaru yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya semakin memacu spekulasi bahwa Federal Reserve akan memulai pengurangan program stimulus lebih cepat dari harapan.

Laporan Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Kamis menunjukkan jumlah pekerja yang mengajukan aplikasi baru untuk memperoleh tunjangan pengangguran turun sebesar 23.000 sepanjang pekan lalu menjadi 298.000. Selain merupakan yang terendah sejak awal September, angka tersebut juga mementahkan ekspektasi kenaikan menjadi 325.000 dari para ekonom. Sedangkan rata-rata klaim dalam 4-minggu, yang dinilai lebih sesuai untuk menggambarkan tren pasar tenaga kerja, turun sebanyak 10.750 ke level terendah sejak akhir September menjadi 322.250.

Sementara dalam waktu bersamaan Departemen Perdagangan AS merevisi naik pertumbuhan GDP AS untuk kuartal ke-3 menjadi 3,6% dari publikasi awal yang sebesar 2,8%. Namun sejumlah analis menilai bahwa laju pertumbuhan tercepat dalam 1 tahun ini lebih didorong oleh penumpukan persediaan yang mencapai level tertinggi sejak tahun 1998. Pertumbuhan bisa berbalik merosot tajam pada kuartal ke-4 jika perusahaan menambah persediaan barang dalam kecepatan yang lebih lambat, menurut para analis tersebut.

Dengan serangkaian data ekonomi AS terbaru yang solid, bagaimanapun, pelaku pasar nampaknya masih tetap menantikan rilis data ketenagakerjaan AS hari Jumat besok untuk mempertimbangkan peluang terjadinya tapering program stimulus oleh Fed. Non Farm Payrolls AS diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan 180.000 lapangan kerja baru pada bulan November setelah mencatat kenaikan sebesar 204.000 pada bulan Oktober. Tingkat pengangguran AS diprediksi juga akan mengalami penurunan menjadi 7,2% dari sebelumnya 7,3%. Hasil yang lebih baik dari ekspektasi akan semakin memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS bisa mulai memperlambat laju pembelian $85 milyar obligasi per bulan dalam rapat kebijakan 17-18 Desember mendatang.?(vid)
dikutip dari: