Kamis, 05 Desember 2013

Hati-hati Efek Pasca Pemilu pada Rupiah


Sumber: Liputan6.com
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal terus menjadi perhatian publik paling tidak sampai akhir 2013. Bahkan, kurs rupiah diyakini takkan lagi kembali di bawah level 10.000 per dolar AS.

Chief Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan memprediksi posisi rupiah pada akhir 2014 akan berada sedikit di bawah level 11.000. Prediksi tersebut muncul karena rupiah bakal memiliki titik stabilitas baru pada tahun depan yaitu di di atas 10.000.

"Tahun depan hingga akhir tahun ya, rupiah di level 10.000-10.500, kami harapkan tidak sampai tembus 12.000, makanya tergantung sentimennya," ungkapnya di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (4/12/2013).

Anton menilai, kebijakan moneter yang dilakukan para pemangku kepentingan di Indonesia sebenarnya sudah tepat. Sayangnya, pergerakan rupiah saat ini justru lebih cenderung dipengaruhi sentimen dari luar negeri khususnya isu pengurangan dana stimulus (tapering off) The Federal Reserves.

Sementara dari dalam negeri, sentimen yang banyak mempengaruhi kurs rupiah berasal dari defis tneraca transaksi (Current Account).

Menurut Anton, gerak rupiah tahun depan kemungkinan bakal banyak dipengaruhi oleh aktivitas Pemilihan Umum (Pemilu). Meski secara historikal selalu menyumbang pertumbuhan ekonomi 0,2%, namun fokus perhatian yang harus dicermati berbagai kalangan adalah pasca Pemilu.

"Kalau muncul gejolak-gejolak karena tidak puas siapa pemimpinnya, itu sentimen yang harus diperhatikan," terangnya.

Seperti diketahui data Valuta Asing (Valas) Bloomberg kembali mencatat ambruknya rupiah ke level 12.005 per dolar AS.

Tanda-tanda pelemahan rupiah hari ini sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Rupiah dibuka melemah ke level 11.948 dari penutupan sehari sebelumnya di posisi 11.888 per dolar AS. Pelemahan rupiah juga tercatat di dalam data RTI. Hingga pukul 11.30 WIB, rupiah terpangkas 130 poin ke level 11.879 per dolar AS. (Yas/Shd)

Rabu, 04 Desember 2013

Jepang Siapkan Paket Stimulus Sebesar $53 Milyar Pada Pekan Ini



sumber berita: Monexnews.com
Jepang akan menyusun paket stimulus ekonomi pada pekan ini yang bernilai sekitar $53 milyar untuk mendukung perekonomian menjelang kenaikan pajak penjualan nasional di bulan April, kata orang yang mengetahui hal tersebut pada hari Selasa.
Ukuran dari paket tersebut, yang di susun di bulan Oktober oleh Perdana Menteri Shinzo Abe, akan berada di kisaran 5.4 triliun yen ($52.43 milyar) sampai 5.6 triliun, kata nara sumber tersebut kepada Reuters.
Para menteri di pemerintahan mengatakan bahwa paket tersebut diperlukan setidaknya sebesar 5 triliyun yen untuk meredam hantaman ekonomi pada kenaikan pajak, yang merupakan langkah terbesar Jepang dalam sedekade ini untuk membatasi utang yang sangat besar.
Pemerintah akan menyusun jumlah paket yang “efektif” untuk dana yang “sekitar di atas 5 triliyun yen,” kata Yasuhiro Hanashi, sekeretaris keuangan parlemen kepada panel dari Partai Liberal Democratic Abe.
Pemerintah akan memutuskan langkah tersebut pada hari Kamis, namun untuk jumlah pastinya tidak akan di umumkan sampai Kabinet menyetujui anggaran tambahan pada tanggal 12 Desember, kata nara sumber tersebut.
Nara sumber tersebut mengatakan pada pekan lalu bahwa anggaran, yang termasuk langkah-langkah stimulus akan bernilai sekitar 7 triliun yen.
Pelonggaran moneter yang besar dari BOJ dan pengeluaran pemerintahan Abe yang yang tinggi sukses angkat Jepang dari deflasi yang sudah berlangsung selama 15 tahun dan pertumbuhan yang moderat. 
(fsyl)
dikutip dari: 
http://www.seputarforex.com/berita/forex/detail.php?nid=144950&topic=jepang_siapkan_paket_stimulus_sebesar_53_milyar_pada_pekan_ini

Selasa, 03 Desember 2013

Laporan Keadaan pasar Per-03 Desember 2013


Diterjemahkan dan Diedit : Willy Seda

Sumber:Forexmetal (MT4)

Sesi perdagangan Asia dan Eropa :

Euro : Euro jatuh terhadap dolar di tengah data bervariasi pada aktivitas manufaktur di
Zona Eropa. Markit Purchasing Managers Index aktivitas (PMI), naik menjadi 51,6 dari 51,3 pada bulan Oktober di zona euro. EUR/USD jatuh ke $ 1,3528 selama Sesi Perdagangan Eropa
Dollar AS : Dolar jatuh terhadap sebagian besar mata uang utama setelah PMI, hal ini karena manufaktur China ternyata bertumbuh lebih baik dari perkiraan semula. Survei bulanan sektor manufaktur di China , yang dilakukan oleh bank HSBC , mengungkapkan bahwa pada bulan November, angka yang sesuai adalah 50,8 dibandingkan dengan perkiraan awal 50,4. Bulan lalu, indeks berada di 50,9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi terus meningkat selama empat bulan berturut-turut .

Sesi Perdagangan Amerika:
British Pound : Pound menurun secara signifikan terhadap dolar, setelah kehilangan semua posisi yang diperoleh pada jam-jam awal setelah pembukaan perdagangan hari ini. Bahkan hasil yang kuat dari PMI Inggris gagal mencegah penjualan hari ini, sebelum pertemuan Bank of England dan publikasi perkiraan musim gugur, yang dijadwalkan pada hari Kamis . Laporan hari ini menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur di Inggris tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2011, karena sektor tersebut mendapatkan momentum dari produksi dan permintaan baru . PMI dari Markit / Chartered Institute of Purchasing & Supply naik menjadi 58,4 pada November dari 56,5 direvisi pada bulan Oktober. Hasilnya bulan November jauh di atas perkiraan konsensus 56,5. Selain itu, indeks PMI menunjukkan peningkatan aktivitas selama delapan bulan berturut-turut. Pemulihan terjadi di semua sub -sektor yang tercakup dalam survei, di tengah meningkatnya produksi dan bisnis baru. GBP/USD naik menjadi $ 1,6430, dan kemudian mundur ke $ 1,6365 selama sesi perdagangan.
Euro : Dolar naik tajam terhadap euro, meskipun kinerja yang kuat dari PMI Eropa , yang mengejutkan investor. Kemungkinan besar, penguatan mata uang Amerika ini karena fakta bahwa minggu ini akan diadakan pertemuan ECB, yang akan menarik perhatian investor.

Emas : Harga emas turun tajam. Biaya emas berjangka Desember turun menjadi $ 1.227,00 per ounce di COMEX hari ini.

Minyak : Biaya berjangka  pada bulan Januari di US light, minyak mentah WTI mendapat dukungan dari data positif  AS dan China. Harga naik menjadi $ 93,30 per barel di New York Mercantile Exchange .